Kolaborasi Antara Gapoktan Jaya Makmur Desa Bulubrangsi dengan KKN 77 UINSA Gelar Gardal Massal Berantas Wereng dan Tikus
LAMONGAN — Pada hari Kamis, 9 Juli 2026 pagi, Desa Bulubrangsi Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, menjadi saksi kegiatan kolaboratif antara Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), PPL, petugas POPT, dan mahasiswa KKN 77 UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) bersinergi menggelar Gerakan Pengendalian (Gardal) hama terpadu di Desa Bulubrangsi. Bertujuan untuk membekali pelaku tani setempat dalam menghadapi dua ancaman besar pertanian yang sedang terjadi di desa Bulubrangsi, yakni serangan hama wereng dan hama tikus. Dengan penuh semangat gotong royong, mereka turun ke sawah bersama-sama melakukan pengendalian hama menggunakan metode ramah lingkungan, sekaligus memberikan edukasi kepada petani tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Sebagai wadah petani, Gapoktan Jaya Makmur yang diketuai oleh Bapak H. Moh Nuril Huda menjadi motor penggerak kegiatan ini. Mereka menyediakan sarana, prasarana, serta koordinasi lapangan agar kegiatan berjalan lancar. Ketua Gapoktan menegaskan bahwa gardal massal ini bukan hanya aksi sesaat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan petani Bulubrangsi.
Mahasiswa KKN 77 UINSA turut memberikan pendampingan teknis, mulai dari sosialisasi cara pengendalian hama yang efektif, hingga praktik langsung di sawah. Kehadiran mereka membawa semangat baru bagi masyarakat desa, sekaligus memperkuat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat.
Kepala Desa Bulubrangsi, Mutif, S.P., menyatakan bahwa kondisi lapangan saat ini sudah sangat mengkhawatirkan sehingga Pemerintah Desa mendukung kolaborasi ini. "Saya lihat kondisi sawah sudah sangat mengkhawatirkan terkait hama tikus dan wereng. Melalui kebersamaan dengan anak-anak KKN ini, mari kita serap ilmunya dan langsung praktik di lapangan agar usaha kita maksimal demi kemakmuran seluruh masyarakat tani Bulubrangsi," ujar Mutif.
Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Bulubrangsi, Suswanto, M.P., menyampaikan bahwa Kabupaten Lamongan saat ini sedang darurat dari serangan wereng coklat dan wereng hijau yang membawa virus kerdil hampa dan tungro. Menanggapi hal itu, petugas POPT Kecamatan Laren, Linggar Lutfinandari, A.Md., memberikan solusi bagi petani untuk mencegah gagal panen akibat wereng. Petani diimbau beralih ke varietas padi golongan MR (seperti MR 219) yang lebih kebal, mengolah sisa panen dengan cara dibajak menggunakan zat dekomposer EM4/R21, serta menerapkan disiplin pengairan berkala (menggenang 3 cm di awal tanam, lalu dikeringkan /sat pada umur 4-20 hari).
Sementara untuk ancaman hama tikus, Linggar mengatakan penyebab hama tikut diakibatkan geografis Desa Bulubrangsi yang merupakan wilayah endemik sekaligus jalur utama migrasi tikus dari bantaran sungai Bengawan Solo.
"Daya biak tikus ini luar biasa, sepasang tikus bisa beranak hingga ribuan ekor dalam setahun. Kunci utama memutus rantai wereng maupun tikus itu sama yaitu Petani harus kompak dan guyup untuk tanam serempak dengan jeda maksimal dua minggu saja, serta wajib membersihkan jerami (damen) sisa panen agar tidak menjadi sarang," urai Linggar.
Sebagai solusi pembasmian tikus, mahasiswa KKN 77 UINSA bersama petugas POPT melatih para petani memproduksi sendiri stik emposan (bom belerang). Penggunaan emposan dinilai jauh lebih aman dan murah ketimbang memasang setrum listrik yang berbahaya.
Hanya dengan modal Rp152.000 untuk membeli 1 kg belerang serbuk, 3 kg KNO3 jenis kristal (agar praktis tanpa menumbuk), soda kue, dan arang batok kelapa, petani bersama mahasiswa berhasil memproduksi 200 stik emposan. Melalui pembuatan mandiri ini, harga per stik bisa ditekan hingga Rp800 saja, berbanding jauh dari harga pasar yang mencapai Rp12.000 per stik.
Dengan adanya gardal massal ini, masyarakat Desa Bulubrangsi berharap hasil panen dapat meningkat, hama dapat ditekan, dan kesejahteraan petani semakin terjamin. Kolaborasi ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengedepankan kerja sama lintas sektor dalam menghadapi tantangan pertanian.